Minggu, 21 Oktober 2018

Sistem Pendidikan atau Sistem Uji Coba?

Mungkin masih banyak yang bertanya-tanya kenapa sih kok Indonesia makin lama makin kelihatan buruk? Kenapa semua masalah yang ada bukannya selesai tapi malah semakin rumit? Sebenarnya faktor yang menjadi dasar dari penyebab semua itu hanya satu, yaitu pendidikan. Baik itu pendidikan agama, moral, karaktek, dll. Pondasi dasar yang menjadikan suatu negara lebih baik dalam hal apapun adalah pendidikan. Mungkin akan ada yang bertanya, kenapa pendidikan yang menjadi dasar, kenapa bukan agama? Bukannya di Pancasila sudah jelas bahwa ketuhanan adalah dasarnya? Dalam Pancasila memang demikian, tetapi dalam ketuhanan kita juga harus melalui pendidikan agama agar kita dapat memahami arti dari ketuhanan itu sendiri. Namun, sayang pendidikan di negara tercinta ini, di bangsa yang sangat besar ini, pendidikan masih dijadikan sebuah percobaan oleh mereka yang katanya peduli oleh rakyat, ingin memakmurkan rakyat, dan semua janji manis mereka yang sebagian besar hanya sebuah kata-kata manis.
Pendidikan yang dapat dikatakan sebagai ajang siswa menjadi tikus percobaan pemerintah. Pendidikan yang sistemnya selalu berubah tiap tahunnya dengan berbagai alasan yang digunakan untuk menutupi ketidakpuasan mereka yang tidak mau berproses. Terbesit sebuah pertanyaan dalam benak saya mengenai sistem pendidikan indonesia yang selalu berubah-ubah, yaitu bagiamana negara ini akan maju jika sistem pendidikan tidak pernah konsisten dalam satu hal? Bagaimana negara ini dapat mandiri jika pendidikannya masih menjadikan siswa sebagai tikus percobaan yang tiap tahunnya selalu diuji? Bagaimana bangsa ini akan kembali disegani dunia jika dalam pendidikannya saja tidak paham sifat dasar manusia yang tidak dapat diseragamkan? Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin juga menjadi pertanyaan dari banyak orang yang miris melihat sistem pendidikan banga ini.
Semua itu didapatkan dari hasil pengamatan saya dari tahun terakhir di SMP. Dan menurut saya, sistem pendidikan Indonesia selama beberapa tahun terkahir merupakan salah satu sistem terburuk di dunia karena pemerintah selalu berusaha untuk menyeragamkan para siswa. Padahal, Albert Einten pernah mengatakan bahwa manusia itu adalah makhluk yang unik. Unik disini merupakan perbedaan pada setiap orang di mana masing-masing dari mereka memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Setiap orang sudah memiliki bakatnya sendiri yang harus terus diasah dengan cara belajar yang mereka sukai, bukan dengan cara-cara yang terpaksa mereka lakukan. Jika terus seperti itu sama saja kita menyuruh seekor ikan yang hidupnya di air untuk memanjat pohon yang ada di darat, maka otomatis ikan tersebut akan menganggap dirinya sangat bodoh. Ditambah lagi dengan sistem penilaian yang seakan-akan membuat persepsi di masyarkat bahwa siswa yang mendapatkan nilai rendah atau tidak mencapai batas minimum adalah siswa yang bodoh. Hal ini tentu saja menyalahi kodratnya karena pada dasarnya manusia yang satu tidak bisa disamakan dengan manusia yang lain.
Memang saat ini Indonesia masih mencari pondasi untuk sistem pendidikan yang baik dan benar. Padahal Ki Hajar Dewantara sudah memberikan standarisasi pendidikan. Dalam bukunya yang berjudul Pusara (1940), Ki Hajar menyatakan tidak baik menyeragamkan hal-hal yang tidak perlu atau tidak bisa diseragamkan. Menurutnya, perbedaan bakat, kemampuan, hingga keahlian harusnya difasilitasi dengan bijak.  Bagi Ki Hajar, anak-anak tumbuh berdasarkan kodrati yang unik, setiap anak mampu untuk menjadi apa yang dia inginkan melalui pendidikan yang selektif dan proposional. Dan kita tahu bahwa sistem ini juga pakai oleh Finlandia. Dengan cara itu lah pendidikan di Finlandia menjadi pendidikan terbaik di dunia.
Oleh karena itu, sekolah di Finlandia fokus untuk menempa para siswa dengan didikan tanpa memisahkan kecerdasan masing-masing siswa. Semua siswa dianggap memiliki kesempatan untuk menjadi yang terbaik. Selain itu, sistem pendidikan Finlandia juga meminimalisir sistem kompetisi dalam dunia pendidikannya. Tidak ada namanya sekolah atau kelas unggulan. Bahkan untuk ujian akhir, Finalndia hanya menyelenggarakan tes sebanyak satu kali, yaitu saat mereka berusia 16 tahun. Sedangkan di Indonesia, tes sudah dilakukan sejak kita berada di bangku SD dari kelas 1 hingga kelas 6. Seharusnya masa-masa SD adalah masanya para anak-anak belajar dengan cara bermain yang membuat mereka lebih cepat menangkap. Namun, di sini dari SD kita sudah harus membuktikan diri kalau kita bukan lah anak yang bodoh, bukan lah anak yang malas. Semua itu sudah harus diemban oleh kita sejak kecil dan jika mucul persepsi seperti di atas adalah hal wajar.
Seharusnya sebelum kita menentukan sebuah sistem pendidikan kita harus terlebih dahulu mengetahui sifat dasar manusia dan prisip pendidikan yang ideal. Ki Hajar Dewantara sudah memberikan prinsip yang ideal menurutnya, yaitu Ki Hajar menyebutnya dengan prinsip N3, yaitu Niteni, Nirokake, Nambahi.  Niteni adalah bahasa jawa yang berasal dari kata dasar titen. Titen berarti adalah kemampuan secara cermat untuk mengenali dan menangkap makna dari suatu objek. Niteni saat ini lebih dikenal dengan definisi proses kognitif yang berusaha untuk mencari kebenaran akan sesuatu. Sedangkan Nirkokake dan Nambahi adalah bahasa jawa yang berarti meniru dan mengembangkan. Dalam hal ini, objek didikan harus mau untuk mengembangkan pikirannya, menerima perbedaan dan membuat sesuatu yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Menurut pandangan saya, prinsip ini adalah prinsip yang ideal untuk sistem pendidikan di Indonesia karena siswa diajari sesuai dengan apa yang seharusnya mereka kuasai. Tetapi entah kenapa Indonesia tidak menggunakan prinsip ini sebagai dasar dari sistem pendidikan. Jika dianalisis kembali, sistem yang akan tercipta dari prinsip ini akan menjadikan siswa lebih berkompeten dalam berbagai aspek sehingga tidak perlu lagi mengadakan full day school yang hanya membuat siswa semakin sulit untuk berkembang, terutama siswa SD.
Salah Satu Dampak Full Day School

Full day school mungkin adalah terobosan baru dalam dunia pendidikan Indonesia, tetapi memiliki dampak yang sangat merugikan bagi siswa karena mereka harus belajar terus-menerus tanpa waktu istirahat yang cukup. Jika full day school di Indonesia diterapkan seperti di Jepang yang setiap 1 jam pelajaran selesai, siswa diberi waktu kurang lebih 10 menit untuk beristirahat. Maka, itu akan sangat baik bagi siswa.
Merubah sistem pendidikan secara berkala memang baik, tetapi sebelum merubah suatu sistem haruslah kita lihat proses bagaimana sistem itu berjalan minimal selama 3 tahun ke depan. Karena jika kita menginginkan sistem itu berjalan secara instan sesuai dengan keinginan kita, maka pendidikan di Indonesia tidak akan pernah membaik untuk selamanya.

PENDIDIKAN BUKAN AJANG SISWA MENJADI KELINCI PERCOBAAN PEMERINTAH. NAMUN, PENDIDIKAN ADALAH WADAH UNTUK MECIPTAKAN GENERASI UNGGUL BANGSA.